Ketika Tuhan Kehilangan Panggung: Cak Nun, Nietzsche, dan Krisis Adab Peradaban
Tulisan ini membaca Emha Ainun Nadjib dan Friedrich Nietzsche sebagai dua suara berbeda yang mengeluhkan hal yang sama: manusia modern telah kehilangan adab terhadap yang sakral. Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi makna, melainkan terseret ke ruang gaduh, diperdebatkan, diperalat, bahkan dipermainkan. Di titik inilah, peradaban memasuki krisis yang bukan sekadar teologis, melainkan kemanusiaan.
Menyandingkan Cak Nun dengan Nietzsche memang terasa janggal. Yang satu berbicara dari kedalaman iman, yang lain dari penyangkalan iman itu sendiri. Namun, kejanggalan ini justru memperlihatkan sesuatu yang menarik: keduanya resah terhadap hal yang sama, yakni cara manusia modern memperlakukan Tuhan dan yang sakral.
Nietzsche, lewat sosok The Madman, berteriak bahwa Tuhan telah mati dan manusialah pembunuhnya. Teriakan itu bukan perayaan ateisme, melainkan ratapan. Ia menyaksikan bagaimana rasionalitas modern, sains, dan kepercayaan pada kemajuan telah menggeser Tuhan dari pusat kehidupan. Tuhan tidak lagi menjadi horizon makna, melainkan peninggalan masa lalu yang canggung disebut di ruang publik.
Cak Nun menyuarakan kegelisahan yang serupa, meskipun dengan bahasa yang jauh lebih emosional dan moral. Ketika ia berkata bahwa manusia telah “membabi-babikan Allah”, yang ia maksud bukan penolakan terhadap Tuhan, melainkan perlakuan kasar terhadap nya. Tuhan tetap disebut, tetapi tanpa rasa hormat. Namanya diucapkan, tetapi tidak lagi disertai adab. Di sinilah Tuhan “dimatikan”: bukan di langit, melainkan di hati dan laku manusia.
Keduanya juga menunjuk tempat yang sama sebagai panggung tragedi ini. Nietzsche menaruh kematian Tuhan di Pasar ruang riuh tempat semua hal dipertukarkan, ditertawakan, dan dinilai dari kegunaannya. Cak Nun melihat media sosial sebagai pasar versi mutakhir. Di sana, Tuhan, Nabi, dan ayat suci tidak lagi hadir sebagai sumber kebijaksanaan, melainkan sebagai bahan debat, alat serangan politik, atau sekadar pemantik emosi. Yang sakral kehilangan jaraknya; dan ketika jarak itu hilang, makna ikut menguap.
Dari sini lahir kehancuran nilai. Nietzsche menyebutnya nihilisme: keadaan ketika manusia tidak lagi tahu untuk apa hidup dijalani. Cak Nun menyebutnya Ultra Jahiliyah: kebodohan yang justru lahir dari merasa paling tahu. Keduanya menunjuk kondisi yang sama akal yang berjalan tanpa kompas, dan hati yang keras karena tidak lagi mengenal rasa takut, malu, atau tunduk.
Poin ketiga yang sering luput adalah ini: runtuhnya kesakralan bukan hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga merusak hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Ketika tidak ada lagi yang dianggap suci, maka tidak ada pula yang benar-benar berharga. Manusia mudah merendahkan orang lain, mudah membenarkan kekerasan simbolik, dan pada akhirnya kehilangan rasa takzim bahkan terhadap hidup itu sendiri. Yang hancur bukan hanya iman, tetapi martabat.
Perbedaan antara Nietzsche dan Cak Nun baru tampak jelas ketika keduanya berbicara tentang jalan keluar. Nietzsche berharap manusia cukup kuat untuk menciptakan nilai-nilai baru setelah Tuhan disingkirkan. Cak Nun justru melihat manusia modern semakin kecil, semakin reaktif, dan semakin kehilangan kebijaksanaan. Namun, pada titik ini pun mereka sebetulnya sejalan: peradaban modern sedang berjalan tanpa rem, digerakkan oleh kesombongannya sendiri.
Maka, baik melalui teriakan Nietzsche maupun keluhan Cak Nun, kita mendengar peringatan yang sama: ketika Tuhan tidak lagi diperlakukan sebagai Yang Absolut entah karena ditolak atau karena dipermainkan yang runtuh bukan hanya langit, tetapi juga kemanusiaan di bumi.